Senin, 07 Maret 2011

PERILAKU POSITIF

Sering kali apa yang sudah saya pelajari, saya fahami suatu waktu, di waktu berikutnya akan lupakan begitu saja. Dengan kata lain saya nggak ngeh dengan semua itu. Makanya sering kali saya jadi orang ‘nato’ no action talk only. Guyonan itu kadang banyak juga benernya. Misalnya dalam hal mendidik anak. Saya tau banget bahwa kita harus dan sebaiknya mengucapkan hanya kata-kata positif. Tapi begitu saya menghadapi keadaan nyata, saya seringkali lupa, apalagi saat kondisi saya juga letih.



Menyadari hal itu, saya mencoba menguranginya dengan banyak berlatih. Atau mencoba untuk memperbanyak diam, i.o. ngomong tapi nyakitin. Apalagi ke anak. Mana saya suka merasa paling pinter dibanding mereka jadi maunya nasehatin, ngegurui. Padahal zaman sudah berubah. Nggak ada lagi guru selamanya, karena suatu saat kita bisa jadi guru tapi disaat yang lain bahkan anak-anak kita yang kita fikir masih kecil-kecil itu malah menjadi guru yang sangat hebat buat kita.



Disamping itu juga saya selalu memaksakan diri untuk membaca buku dan menghadiri setiap undangan pelatihan atau semianar atau ceramah yang diadakan oleh kantor atau sekolah anak-anak. Salah satunya kemarin tgl. 8 Dec’07. Kebetulan sekali ceramah itu diadakan di mesjid deket rumah



Dibawakan oleh Ibu Rozamon Anwar (cmiiw) psikolog dari SD Al-Fikri (smoga Alloh memberkahi beliau), mengenai mendidik dengan kata-kata Positif. Yg hadir saat itu tidak banyak bahkan bisa dibilang sangat sedikit. Tapi tak mengurangi isi dari apa yang disampaikan. Salah satu yang saya mencoba patri dalam diri saya adalah bahwa, saat anak emosi, entah menangis, marah, tertawa riang itulah ‘golden moment’ buat kita untuk lebih dekat dan berempati pada anak’



Terhenyak rasanya, yah betul. Itu saat istimewa tapi sering saya lewatkan.



Siangnya saat Ihsan diminta oleh Bapaknya untuk membeli minuman dingin, dan ternyata yg dibeli ‘hanya’ minuman biasa. Bapaknya langsung berkomentar ‘kok gak dingin, kan Bapak minta yang dingin’



‘Yah…Bapak gak bilang’

‘Bapak kan udah bilang tadi. Ayo tuker sana’

Ihsan cemberut dan langsung merebahkan badanya di kursi. Dia kecewa karena yang pertama dilihat oleh Bapaknya hanya kesalahanya. Jerih payahnya sama sekali tak terlihat dan tidak dihargai.



Untung saya baru saja mendengar ceraham Ibu Ocha. Lantas saja saya bawa Ihsan dan saya tanya. ‘Ihsan kecewa ya? Udah cape-cape malah disalahin. Sedih ya?’



Ihsan langsung menangis sesegukan ‘Iya, abisnya aku udah cape-cape Bapaknya bukan bilang terimakasih tapi malah gitu…huhuhu…’



‘Iya, ibu ngerti Ihsan sedih. Yuk sini duduk deket Ibu’ sambil saya peluk dia. Setelah reda baru saya bilang ‘Bapaknya mungkin gak sadar San, nanti Ibu kasih tau. Ibu sama Bapak masih belajar untuk bisa berlaku baik dan jadi temen buat anak-anaknya, kita sama-sama belajar’ Segera saya kasih tau Bapaknya untuk minta maaf, dia baru tersadar bahwa telah menyakiti anaknya.



Ternyata….kita harus belajar lebih banyak dan lebih cepat untuk semua. Bagaimana bisa mencetak anak-anak yang penuh empati jika sang pemberi contoh bukanlah orang-orang yg penuh empati….



Smoga kita terus dituntun untuk terus belajar, terus membuka diri. Tolong kami ya Alloh, karena hanya engkaulah yang mampu menolong kami yang lemah dan serba terbatas ini.





Rangkuman ceramah:



Anak-anak adalah:

fitrah,

suci,

aktif,

ingin tau,

bahagia,

punya potensi kebaikan,

potensi rasa percaya diri,

kreatifitas,

mau mencoba hal-hal baru



Tantangan Guru dan orang tua:

Dapat membekali anak cara memandang persoalan

Akademik

Perilaku

Karakter

Spiritualitas dan

Emosi



Sadarilah bahwa: ‘Growing up is not easy’



Mereka juga susah, siapa bilang gampang, orang tua enak tinggal ngomong ini itu. Anak yg mengalaminya? Hal ini yg sering kita lupakan.



Perilaku positif:

1. Modeling
2. Memahami emosi
3. Pada saat emosional adalah saat yg istimewa untuk menjadi lebih dekat dan berempati
4. Lebih baik diam
5. Jangan pernah memberikan nasehat diawal. Nasehat hanya boleh dilakukan diakhir dan kalo perlu nanti saja. Tunggu waktu yg lebih nyaman.



Siapapun malas bila dinasehati terus. Jangankan anak, kita pun juga bila terus-terusan dinasehati bosen akhirnya.



Hambatan komunikasi:

1. Menyalahkan
2. Menasehati
3. Mengungkit-ungkit
4. Meremehkan
5. Membandingkan
6. Memberikan label
7. Mengancam dst.

Berilah anak-anak hanya kata-kata positif. Hargai setiap perilaku positifnya. Jangan dibesar-besarkan hal-hal negatifnya. Dia juga gak suka kok.

Sabda Rosul kira-kira begini: Jangan Marah….Hindari marah…Jaga amarah.
Tags: parenting